Connect with us

Lika-liku Kepergian Ghozali ke Korea Mulai Dipergunjingkan, ‘Boroknya’ Terungkap

KILAS DAERAH

Lika-liku Kepergian Ghozali ke Korea Mulai Dipergunjingkan, ‘Boroknya’ Terungkap

Kontra.ID — Selincah-lincahnya kingkong bergelayutan di pepohonan, suatu saat pasti akan terpelanting juga, sekalipun tangannya lebih panjang dari pada kakinya.

Inilah yang terjadi saat ini dengan lika liku perjalanan karir Muhammad Ghozali, sebagai salah satu pendamping Desa terbaik di kabupaten ini mulai diisukan menilap dana Badan Usaha milik Desa Ujung Kubu dan Desa Kapal Merah, kecamatan Nibung Hangus, kabupaten Batubara, senilai Rp 60 juta.

Satu-persatu, borok Muhammad Ghozali pun mulai dikorek dan diungkap oleh tenaga ahli Pendamping Desa Kabupaten Batubara, Aslani.


Pendamping Desa, Muhammad Ghozali yang disebut terduga pelaku yang tilap uang Bumdes Desa Ujung Kubu dan Desa Kapal Merah dengan modus pengurusan Elpj.

Yang menariknya dari sekian banyak foto-foto selfie pria ini (Muhammad Ghozali) dengan berbagai tokoh-tokoh korea, ternyata kepergianya ke negara itu pun beberapa waktu lalu dipenuhi dengan banyak masalah. Hal itu diungkapan langsung oleh Aslani, salah satu pimpinan tertingginya di daerah tersebut.

Tenaga Ahli Pendamping Desa Kabupaten Batubara, Aslani.

Menurut Aslani, keberangkatan oknum petugas pendamping Desa (Muhammad Ghozali) ke Korea  beberapa waktu lalu ternyata diduga tidak memiliki pengakuan kuat bahwa dia adalah salah satu petugas pendamping Desa yang berprestasi baik di indonesia maupun di Sumatera Utara.

Tak hanya itu, jejak Muhammad Ghozali, kata Aslani juga tidak mempunyai bukti – bukti bahwa dia telah mendapat predikat sebagai salah satu tenaga pendamping Desa terbaik ditingkat manapun, termasuk di tingkat desa binaanya sendiri.


“Soal keberangkatan oknum pendamping itu (Muhammad Ghozali) kemarin saat berangkat ke Korea, tidak saja dipenuh dengan banyak masalah, soalnya, bagaimana mungkin beliau bisa mendapat predikat sebagai tenaga pendamping terbaik untuk mendampingi desa di Sumut ke korea, masa tugas beliau kan baru saja satu tahun waktu itu”, beber Aslani seperti dikutip dari media Zulnas.com , jum’at (12/07/2019).

Untuk mendapat predikat terbaik dalam mendampingi desa diseluruh Indonesia di Korea, kata Aslani, yang bersangkutan tentu harus punya sertifikat. Siapa tim penilainya? Tidak ada satu surat apa pun baik dari tingkat Kabupaten, provinsi, bahkan kementerian pusat pun yang menyatakan tingkat keberhasilan Muhammad Ghozali itu” kata aslani.

Ajaibnya, ungkap Aslani, ada pihak lain yang memberikan rekomendasi secara tertutup, namun tidak tau siapa itu, tiba-tiba saja surat itu datang bergentangan sama dia.

“Inikan lucu, ada pulak surat rekomendasi yang keluar secara misterius, baik dari Kabupaten, provinsi maupun pusat, tapi yang bersangkutan mengklaim sebagai pendamping Desa terbaik”, ujar Aslani sembari terheran- heran.

Sejauh ini, kata Aslani lagi, Muhammad Ghozali juga tidak dapat menujukkan bukti sertifkat terbaik, bahkan tidak ada statemen dari lembaga manapun yang menyatakan beliau sebagai pendamping desa terbaik.

Lebih lanjut dibeberkan Aslani, pihak Provinsi Sumatera Utara dan pihak Kabupaten Batubara juga tidak pernah mengeluarkan surat penilaian apa pun terhadapnya.

Hanya saja, Menurut dia, Muhammad Ghozali sering mengunggah foto-fotonya saat bertugas sebagai tenaga pendamping didesa. Foto-foto foto itu, dia share lewat media sosial (Medsos), hanya itu prestasinya.

“Apakah foto yang dia share ke Facebook itu kemudian menjadi penilaian. Tapi yang pasti itu bukan bagian dari salah satu kriteria, tidak juga ada hubunganya dengan program pendampingan itu”, Tegasnya.

“Waktu itu, Tahun 2018, Beliau baru saja bekerja sebagai pendamping, dari mana pula dia bisa dapat penilaian terbaik”,cetusnya.

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in KILAS DAERAH

To Top