Connect with us

Wabah PHK Hempaskan Puluhan Buruh di Inalum

Pekerja PT Inalum (Sumber Foto: Alenia.id)

KILAS DAERAH

Wabah PHK Hempaskan Puluhan Buruh di Inalum

Hampir ratusan pekerja buruh di Batu Bara terseret gelombang pemecatan akibat lesunya industri di masa pandemi Covid-19. Angkanya berpotensi melonjak hingga Ribuan, menambah banyak penganggur baru akibat terbatasnya lapangan kerja di daerah. Program penyelamatan pemerintah Batu Bara bagi kaum buruh hingga kini belum jelas.

Kontra.ID — Wabah virus corona atau (COVID-19) membuat perekonomian di Indonesia, tak terkecuali di Kabupaten Batu Bara, lesu darah. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) alias pemecatan buruh lantaran terputusnya kontrak mulai masif.

Hingga 17 April 2020 kemarin, kontra.ID mencatat, jumlah pekerja buruh di PT Inalum, Kuala Tanjung terdampak Covid-19 sudah hampir mencapai ratusan orang.

Sudah dua pekan lebih perusahaan PT Gobel Dharma Sarana Karya perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan jasa boga cafetaria dirumahkan PT Inalum.

Para Pekerja buruh di Inalum yang dirumahkan tersebut merupakan pekerja Buruh PT Gobel Dharma Sarana Karya yang kontraknya di PT Inalum habis, bulan Maret lalu.

Industri yang memproduksi Aluminium Ingot, Alloy dan Aluminium Billet di tanah air ini memang benar-benar stop kontrak dengan PT Gobel Dharma Sarana Karya alias bekas perusahaan pemenang tender catering di Asean Game 2018 lalu itu, selaku perusahaan utama yang bergerak dibidang Catering di Inalum.

Dengan adanya pergantian vendor dari PT Gobel yang dialihkan ke
Koperasi Karyawan Inalum (Kokalum), yang diduga kerap memonopoli sebagahaian pekerjaan proeyk di Inalum.


Bahkan dari sumber yang didapat dari sumber kami, Kokalum juga  diduga menjadi tempat ajang keuntungan bagi para petingi-petinggi Inalum selaku user atau perusahaan pemberi kerja.

Terlebih Kokalum memiliki perusahaan bernama PT Dinamika Mandiri Karya (DMK). Hampir seluruh proyek besar di Inalum divendorkan ke Kokalum (PT DMK)

Tak jelas. Hingga kini tak pernah ada penyelidikan soal dugaan itu. Yang pasti, koperasi milik karyawan Inalum itu adalah “Koperasi” yang membuat banyak petinggi karyawan di Inalum hidupnya semakin sejahtera.

Kembali kepada wabah PHK yang menghempaskan puluhan pekerja di Inalum, para pekerja buruh di PT Gobel pada hakikatnya secara bersamaan dengan adanya peralihan vendor tersebut tetap ingin bekerja meskipun beralih mengikuti pemegang vendor baru yakni, Koperasi Karyawan Inalum.

Namun, bukan peralihan ke vendor baru yang didapat para pekerja buruh di Inalum. Melainkan puluhan pekerja yang bergerak di bidang cathring telah puluhan tahun bekerja di Inalum ini justru ditinggalkan begitu saja, tanpa mendapatkan hak-hak mereka selama bekerja menjadi buruh PT Gobel selama dikontrak Inalum.

Sayangnya, PT Inalum dalam hal ini, oleh sebahagaian buruh di Inalum, PT Inalum dianggap tak cermat dalam menentukan vendor.

“Kami udah ada yang 5 sampai 8 tahun kerja di cathring Inalum. di PT yang ke enam (PT Gobel) inilah kami terbuang,” kata ketua Pimpinan Komisariat FSB KAMIPARHO KSBSI PT Gobel Dharma Sarana Karya, Syahril menuturkan seperti dilansir jangkau.com, (17/4/2020).

Buruh PT Gobel Dharma Sarana Karya yang dikontrak PT Inalum yang di PHK karna habis masa kontrak.

Dalam sepanjang sejarah, hanya kali ini, ketika Kokalum menjadi vendor, buruh banyak terbuang.

“Dari PT Mitra Serasi Lestari terus PT Jaya Teknindo Bersama Mandiri, PT ACS Aerofood Catering Service, terus ke PT AIC Aerofood Indiustrial Catering ke PT AJC Anugrah Jasa Catering, AJS bermasalah, diambil alih Kokalum sebentar, terus beralih ke PT Gobel, sekarang balik
lagi ke Kokalum,” ucapnya.

“Di terakhir ini lah nasib kami terhenti, tidak diikutkan. Tidak ada pemberitahuan dari pihak managemen. Tahunya di schedule kami lihat tidak ada nama kami,” kata Syahril matanya berkaca-kaca.

Suramnya nasib Buruh di tangan PT Gobel itu kini telah angkat kaki alias tak mendapat perpanjang kontrak dari PT Inalum, ada beberapa hak-hak normatif yang belum diterima para pekerja PT Gobel selama di kontrak Inalum.

Termasuk hak atas ganti-rugi (kompensasi) diakhirinya hubungan kerja PKWT (perjanjian kerja waktu tertentu) mereka.

“Pertama hak sisa cuti yang belum hangus belum dibayarkan, dan lembur tanggal merah yang belum dibayarkan serta uang pesangon tidak dibayarkan,” kata Syahril.

Kami, lanjut Syahril lagi, “sudah melayangkan surat berupa pernyataaan tentang kekurangan hak normatif dan pesangon yang belum terbayarkan oleh PT Gobel (yang dikontrak PT Inalum)”.

Syahril pun sudah mengkonfirmasi ke marketing dan HRD PT Gobel di Jakarta, tapi tidak menerima jawaban yang memusakan.

“Artinya mereka berdua (Marketing dan HRD PT Gobel) saling melempar masalah ini,” ucapnya.

Mengenai nasib hubungan kerja, kepada Kokalum selaku pemegang vendor baru di pusaran kekuasaan di PT Inalum tersebut, para pekerja buruh ini berharap Kokalum menerapkan amanat Putusan MK Register Nomor 27/PUU-IX/2011, bahwa PKWT harus memuat prinsip pengalihan tindakan perlindungan bagi pekerjanya.

Pengalihan perlindungan hak-hak terhadap pekerja, termasuk berlanjutnya hubungan kerja dengan perusahaan baru yang objek kerja-nya tetap ada walaupun terjadi pergantian perusahaan.

“Kepada Kokalum yah kami (berharap) diperkajakan kembali sesuai dengan bidang pekerjaan masing-masing,” kata Syahril.

Dikutip dari jangkau.com, saat mengkonfirmasi ke managemen PT Gobel, lewat telpon seluler, Rusti Marketing perusahaan yang disinggung pertanyaan mengenai nasib pembayaran hak eks pekerjanya di PT Inalum, seketika itu Rusti pun mematikan sambungan komunikasi.

Saat dicoba mengkonfirmasi kembali lewat panggilan seluler, lagi-lagi selalu mendapatkan penolakan. Begitu pula dengan konfirmasi lewat pesan whatsapp yang dilayangkan. Juga tidak mendapatkan balasan.

Kontra.ID, hingga kini masih berusaha menghubungi pihak Kokalum terkait ini. Hingga berita ini digubrik, redaksi kami belum mendapatkan kontak mereka.

Sebagai informasi, Industri Inalum yang memproduksi tiga  produk Alumunim di tanah air memang tengah lesu darah sejak virus corona mewabah.

Setidaknya, pada 2 April 2020 lalu Kontra.ID menulis, penjualan harga produk Aluminium catatkan sejarah paling terburuk penurunan harga pejualannya sepanjang masa, dimasa masa gempuran akibat terkendala efek gulir Corona virus.

Never love anybody or anything, and instead, love everybody and everything.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in KILAS DAERAH

To Top