Connect with us

Kasat Pol PP Batubara Hanya Berani Gusur Rakyat Kecil

KILAS DAERAH

Kasat Pol PP Batubara Hanya Berani Gusur Rakyat Kecil

Kontra.ID — Kepala Satuan Polisi Pamong Peraja (Kasat-Pol PP) kabupaten Batubara, Radyansyah Lubis yang sudah menjabat 4 tahun lebih belakangan ini menjadi gunjingan dan buah bibir ditengah masyarakat, lantaran hanya beraninya mengusur rakyat kecil.

Mantan Kabag Humas Pemkab Batubara itu, selain beraninya mengusur rakyat kecil, dinilai tidak becus dalam menjalankan tugasnya sebagai pelaksanaan penegakan Peraturan Daerah (Perda) di negeri beradat itu.

Selain tidak becus dan tebang pilih dalam menjalankan kebijakan penertiban IMB, kebijakan Radyansyah Lubis selaku pimpinan Satpol PP di Daerah itu, juga bahkan dikenal arogan dalam menghadapi masyarakat pedagang kecil dari tahun ke tahunnya.


Kasat Pol PP Batubara, Radyansyah F Lubis (kiri)

Menurut keterangan Sirliyanti Togatorop selaku pedagang di kuala Tanjung yang menjadi korban tebang pilih dari pengurusan ini mengatakan ,”bahwa Sat-Pol PP Batubara selama dipimpinan Radyansyah Lubis, setiap kali menertibkan pedagang kecil, selalu tebang pilih melakukan aksi penggusuran dengan dalih penertiban terhadap bangunan yang tidak memiliki Izin mendirikan bagunan (IMB).

Bahkan tak jarang dagangan pedagang kecil dihancurkan Sat-Pol PP Batubara, namun penertiban IMB dibawah tangan dingin Radyansyah Lubis itu hanya berlaku bagi pedagang kecil semata.

Namun bagi pedagang maupun pengusaha besar yang juga menjajakan dagangannya diatas trotoar dan diatas Dataran Air Sungai (DAS)  bahkan sampai ke bahu jalan terlepas dari pantauan Radyansyah Lubis.


Seperti di sepanjang jalan lintasan trotoar usaha esek-esek atau prostitusi, yang ada di Jalisum Kecamatan Limapuluh dan Sei Balai, dengan jelas melakukan pengrusakan ketertiban umum, padahal tak memiliki IMB.

Lantas,  Benarkah Kasat Pol PP Batubara Hanya Berani Gusur Rakyat Kecil ?

Sirliyanti Togatorop mengatakan, semua wilayah  tersebut adalah lahan ilegal untuk bangunan. Namun, Satpol PP Batubara hendaknya jangan tebang pilih. Beberapa kawasan elite di Batubara pun diketahui masih ilegal juga harus ditertibkan.

Sebut saja milik pengusaha berkantng tebal seperti restoran RM 100, Kaffe TM 100 yang berada di atas dataran air sungai (DAS), yang konon diduga kuat adanya persekongkolan antara Satpol PP Batubara dengan para pengusaha berkantong tebal tersebut, sehingga tak pernah ditindak  tegas seperti yang dilakukan Satpol PP terhadap warung milik Sirliyanti Togatoro .

Begitu pula dengan pedagang berkantung tebal lainya seperti salah satu Kafe di Kuala Tanjung, yang tak memiliki IMB sekaligus milik pejabat Batubara yang memanfaatkan trotoar dan jalan kereta api tidak pernah ditindak Satpol PP Batubara.

Sirliyanti Togatorop saat menyaksikan warungnya diruntuhkan Satpol PP Batubara.

Tangis Ibu beranak delapan ini pun pecah histeris setelah menyaksikan betapa tak punya hatinya Satpol PP Batubara dalam melakukan Penggusuran Tebang Pilih terhadap Sirliyanti Togatorop, di Dusun IV Desa Kuala Tanjung, tepatnya berada di depan PT Belawan Indah (PT.BI).

“Aku, diangkatin barang aku, siap aku gak marah, tapi pas mereka itu pulang ditinggal begitu saja tanpa ada ucapan apa apa. Siapa yang gak menagis siapa yang gak menjerit,”

“Punya aku sendiri yang dibongkar dan yang disebelah dan yang bersampingan dengan warung ku enggak dirubuhkan. Apa sebenarnya salah aku, kenapa punya mereka gak dibongkar,” protes Sirliyanti, jumat (09/08/2019) sambil menangis.

Sirliyanti pun mengisahkan, dari warung usahanya itu ia hanya menjual rokok dan aqua saja, dan di warung itu pula ia melakukan aktifitas sehari hari bersama suami dan juga delapan anaknya. Sebab Sirliyanti mengakui tidak mimiliki rumah tinggal.

“Tapi kenapa aku aja yang dipojokkan orang itu. Kenapa terus pulang gak ada dibongkar yang lain. Aku dikorbankan sendirian. Kalau memang apabila pemerintah yang inigin mengambil, diambillah kiri kanan, kenapa aku sendiri aja,” ucapnya.

Meski begitu, Ia mengakui menerima dan tidak malakukan perlawanan saat petugas Satpol PP melakukan pembongkaran warungnya. hingga sampai berita ini diterbitkan, diantaranya usaha dagang disepanjang jalan yang berdekatan dengan tempat Usaha Sirliyanti Togatorop itu sama sekali tak disentuh.

“Tapi ketika orang itu berangkat dari warungku tidak ada bahasa sabar ya buk, bilang satu bahasa apa pun, yang orang itu pake dinas tidak dihargainya aku, tidak dihargai sedikitpun. Biar pun aku orang susah”

“Kenapa sampai hati pejabat pejabat itu,” tangisnya.

Atas kejadian ini, Sirliyanti Togatorop berharap pemerintah Batubara memberikan perhatian terhadap nasib dan masa depan keluarganya.

“Pak Zahir tolonglah masyarakat Kuala Tanjung ini pak, kami menompang di depan BI pak, bukan kami bilang hak milik kami. bukan permanen warungku ditempat ini pak. hanya sekedar rokok dan aqua saja bapak mengertilah,” pungkasnya seperti dilansir dari jangkau.com

Alibi dan Bantahan Kasat Sapol PP

Kasat Pol PP Batubara, Radiansyah Lubis.

Sementara Kasat Pol PP kabupaten Batubara, Radianyah F Lubis, membantah jika pihaknya melakukan tebang pilih dalam penertiban di sepanjang acces Road Inalum Kuala Tanjung. Ia beralasan sebenarnya tidak ada niat untuk tebang pilih.

Menurutnya dari tahun 2017 lalu, kira kira dua hari sebelum 17 agustus, dari Simpang Kuala ujung pihaknya ingin bersihkan semua bangunan liar yang berdiri di sepanjang acces road Inalum.

“Sebelum 2018 kalau gak salah itu ada juga surat waktu itu mungkin ada kunjungan rencana pak Presiden, kita himbau tapi waktu saya diminta pak Ahmad Muhtaz untuk bisa berdialog dengan para pedagang,” terangnya minggu (12/08/2019) malam, seperti dikutip dari jangkau.com

Nah, lanjutnya, “soal penertiban kemarin saya tanya ke kabid Trantib, Safril supaya jangan simpang siur. kan ada wartawan kemarin nelpon, nah saya bilang gimana konsdsinya? Apa sudah disurati? Sudah jawabnya” terang Radyansyah panjang lebar.

“Artinya kalau kami betul betul tidak senang dengan masyarakat kita Batubara, kita kan mainnya refresif, kan kita tidak demikian,” ucapnya.

Ia mengklaim setiap anggota yang akan turun ke lapangan tetap selalu wanti-wanti agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.

“Malah saya usaha untuk ikut namun kemarin karena memang saya harus berbagi tugas” alibinya.

Makanya, lanjut Radyansyah, saya bilang kemarin sama kawan kawan tolong tetap harus dikedepankan sisi humanis (kemanusian) yang di dorong.

“Jangan berbiat kasar, ada SOP kita saya bilang. Jadi memang kemarin itu juga, ya laporan kabid lah saya belum lihat. Ada memang ibu ibu bilang “saya minta waktu” akhirnya laporan si kabid dikasih waktu. Saya memang belum lihat langsung,” pungkasnya. *Muhammad Ariffin Efendi

1 Comment

1 Comment

  1. ปั้มไลค์

    13 Agustus 2019 at 6:26 am

    Like!! Really appreciate you sharing this blog post.Really thank you! Keep writing.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in KILAS DAERAH

To Top